Jumat, 03 Februari 2012

10 kematian olahragawan

10. Shoya Tomizawa



lahir di Asahi City, Chiba, Jepang, 10 Desember 1990 – meninggal di Riccione, Italia, 5 September 2010 pada umur 19 tahun) merupakan seorang pembalap motor professional asal Jepang. Ia merupakan juara balapan pertama (inagurasi) kelas Moto2 di Qatar pada bulan April 2010. Memulai karier dari All Japanese Championship, Tomizawa pindah ke kelas 250cc pada musim 2009. Ia lantas melanjutkan kariernya ke kelas baru Moto2 di tahun 2010.
Tomizawa tewas dalam balapan GP San Marino 2010 setelah ia terlibat kecelakaan fatal dengan Scott Redding dan Alex de Angelis. Tomizawa dinyatakan meninggal dunia oleh dokter di rumah sakit di Riccione Italia pada pukul 14.15 waktu setempat atau 19.15 WIB

9.Antonio Puerta



lahir di Sevilla, Spanyol, 26 November 1984 – meninggal 28 Agustus 2007 pada umur 22 tahun merupakan seorang pemain sepak bola berkebangsaan Spanyol. Dia bermain untuk Sevilla FC di La Liga. Bermain di klub ini sejak tahun 2004 hingga 2007.

Dia meninggal dunia pada 28 Agustus 2007 setelah mengalami gagal jantung saat melawan Getafe CF dalam partai pembuka La Liga musim 2007-08.
Puerta meninggal karena "cedera otak dan tidak berfungsinya organ tubuhnya itu akibat penyakit jantung yang sudah lama yang menyebabkan dia harus dibawa ke rumahsakit.

8.Marco Simoncelli



Marco Simoncelli (lahir di Cattolica, Rimini, Italia, 20 Januari 1987 – meninggal di Sepang, Malaysia, 23 Oktober 2011 pada umur 24 tahun) adalah salah satu pembalap MotoGP yang berasal dari Italia, dan cukup terkenal dengan karakter balapnya yang cukup garang. Gaya garangnya ini terlihat ketika seri terakhir MotoGP musim 2010, saat ia nyaris membuat Jorge Lorenzo terjatuh dan gagal meraih kemenangan di seri terakhir musim itu.

Simoncelli mengawali karirnya di dunia balap motor profesional, ketika ia menginjak usia 9 tahun di ajang Italian Minimoto Championship. Tahun 2001 ia pun hengkang ke ajang European 125cc dan mengamankan titel juara pada tahun 2002.

Pada tahun 2002 ia kemudian memulai karirnya di ajang MotoGP. Selama tiga tahun ia kemudian berlaga di kelas 125cc, namun ia hanya mampu meraih hasil terbaik di posisi kelima pada tahun 2005. Naik ke kelas 250cc ia menjadi satu-satunya pembalap tim Gilera yang mampu menunjukkan hasil terbaik di ajang ini. Yaitu menjadi juara dunia pada tahun 2008.

Hasil ini membuat tim Gresini Honda tertarik untuk merekrutnya di ajang MotoGP pada tahun 2010 lalu. Ia pun mampu memperlihatkan hasil yang bagus sebagai pembalap rookie. Hasil terbaik yang bisa ditorehkan oleh pembalap asal Italia itu, adalah posisi keempat di MotoGP Portugal 2010.
Kematian

Simoncelli meninggal dunia di Sirkuit Internasional Sepang pada tanggal 23 Oktober 2011 karena kecelakaan yang dialaminya saat GP Malaysia 2011. Simoncelli terlibat kecelakaan bersama Colin Edwards dan Valentino Rossi saat berada di posisi keempat pada putaran kedua. Simoncelli terjatuh ketika sedang berbelok di tikungan ke-11 Sirkuit Sepang dan tertabrak oleh motor Edwards. Edwards juga terjatuh namun hanya mengalami patah tulang bahu, sementara Simoncelli berbaring diam di lintasan sesaat setelah kecelakaan dengan helmnya terlepas dalam insiden itu. Sementara itu, Rossi hanya sedikit kehilangan keseimbangan dan dapat melaju pelan ke pit-stop. Setelah insiden tersebut, perlombaan dihentikan dan Simoncelli langsung dibawa ke pusat medis Sirkuit Sepang. Pada pukul 16.56 waktu setempat, Simoncelli dinyatakan meninggal dunia karena luka serius yang dideritanya.[1][2][3] Kemudian, dalam jumpa pers direksi balapan MotoGP, kepala medis, Michele Macchiagodena, menyatakan bahwa Simoncelli mengalami “trauma serius di kepala, leher, dan dada,” dan sempat diberi perawatan CPR selama 45 menit sebelum akhirnya meninggal.

7. Choi, Yo-Sam



Choi, Yo-Sam (1 Maret 1972 – 2 Januari 2008) adalah mantan juara tinju dunia versi WBC kelas terbang yunior asal Korea Selatan. Pada tanggal 25 Desember 2007, ia berhasil mempertahankan gelar kelas terbang Inter-Continental WBO dengan kemenangan angka mutlak atas Heri Amol dari Indonesia. Pada ronde ke-12, Choi dijatuhkan (knockdown)dengan waktu hanya tersisa 5 detik, namun mampu segera bangkit, sehingga hitungan tidak dilanjutkan dan selanjutnya Choi dinyatakan memenangkan pertandingan itu dengan angka mutlak. Sesaat setelah diumumkan sebagai pemenang itulah, ia terjatuh tak sadarkan diri saat masih berada di atas ring dan dia segera dilarikan ke Rumah Sakit Universitas Soonchunhyang. Choi dinyatakan mengalami pembengkakan otak dan sempat menjalani operasi otak di rumahsakit tersebut. Namun, Choi akhirnya meninggal pada tanggal 2 Januari 2008, setelah dinyatakan mati batang otak sehari sebelumnya.

6. Phil O'donnell


Phillip "Phil" O'Donnell (25 Maret 1972 - 29 Desember 2007) adalah seorang pemain sepak bola Skotlandia yang bermain untuk Motherwell Sekaligus kapten tim Motherwell (Skotlandia),, Celtic dan Sheffield Wednesday selama karirnya. Dia juga mendapatkan satu topi internasional dan dua kali memenangkan Skotlandia PFA Young Player of the Year Award. Ia meninggal setelah menderita serangan jantung di lapangan bermain untuk Motherwell melawan Dundee United pada tanggal 29 Desember 2007 dalam laga di kompetisi Liga Primer Skotlandia, Sabtu 29 Desember 2007 malam di Fir Park.

5. Roman Simakov



Roman Simakov jatuh KO (knock-out) saat bertanding pada ronde ketujuh pertarungan tinju gelar WBC Asia Boxing Council. Pertandingan yang berlangsung pada Senin malam silam di sebuah arena tinju di Moskow, Rusia, itu ternyata menjadi pertandingan terakhirnya. Usai menjalani masa koma beberapa hari di rumah sakit Yekaterinburg, Ural, Rusia, petinju yang begitu terkenal di Negeri Beruang Merah itu dinyatakan tewas pada hari Kamis. Federasi Tinju Rusia (RBF) pun mengumumkan berita kematian pria berusia 27 tahun itu, tiga hari usai pertandingan yang membuat dirinya koma dan dilarikan ke rumah sakit.

4. Gustavo Sonderman

Kematian Gustavo Sondermann di sirkuit Interlagos Brasil dalam ajang balap Truck Series (Copa Chevrolet Montana) Brazil (3/4) lalu, membuat pengelola sirkuit tersebut akan melakukan perbaikan pada layout sirkuit. Minimnya areal run off atau gravel di tikungan cepat menjelang trek lurus start/finish (Subida do Boxes), disinyalir menjadi penyebab utama mobilnya terhenti di tengah lintasan.

Dalam keadaan terhenti di tengah lintasan dan di antara mobil-mobil lain yang sedang melaju tinggi dalam kondisi hujan tersebut, ia lalu tertabrak dengan keras dari belakang mobilnya. Tabrakan tersebut mengakibatkan bagian belakang mobil Sondermann ringsek dan mengenai sang pembalap. Sondermann pun tidak bisa diselamatkan karena menderita cedera serius.

3. Jorge Martinez Buero



Pembalap motor asal Argentina, Jorge Martinez Buero tewas setelah mengalami kecelakaan di tahap pertama reli di tanah airnya sendiri, Senin (2/1) waktu setempat.

Penyelenggara mengatakan, pembalap motor berusia 38 tahun itu mengalami kecelakaan di jalur dekat dengan bagian akhir dari trek reli yaitu daerah antara dua bukit pasir di pesisir Atlantik.

Saat kecelakaan dia menggunakan motor RR450 dari mulai start di Mar de Plata di Provinsi Buenos Aires menuju Santa Rosa di La Pampa yang ada di bagian tengah Argentina.

Dia mengalami luka sangat serius di bagian tulang dada mengakibatkan mengalami serangan jantung sampai akhirnya ia tewas.

2. Pierre Levegh dan 83 penonton




Pierre Levegh, seorang sopir pabrik untuk Mercedes-Benz, membayangi pemimpin perlombaan setelah dua jam melaju pada 24 Hours of Le Mans race 1955 di Le Mans. Sebuah mobil lebih lambat memblokir jalan dan, mobil yang memimpin lomba mampu menghindarinya, tapi itu membuat Levegh tidak ada waktu untuk bereaksi.

Dia bertabrakan dengan mobil lebih lambat, yang membuat jalur dibelakangnya seperti mengamuk, dan membuatnya terpental ke udara pada kecepatan hampir 150 mil per jam. Ia melejit ke udara dan menghantam gundukan tanah di sebelah kiri penonton.

Bagian mobil- termasuk gandar depan dan kap - terbang ke kerumunan. Tangki bahan bakar pecah dan mobil, dengan komponen yang banyak terbuat dari magnesium, meledak menjadi api, mengirimkan bara ke jalur lintasan dan juga ke banyak penonton.

Pada hari itu, 83 penonton tewas dan 120 lainnya luka-luka. Tragedi Le Mans 1955 telah digambarkan sebagai peristiwa tunggal yang hampir mematikan olahraga balap mobil itu sendiri. Mercedes-Benz menarik diri dari olahraga motor kompetitif sampai pertengahan 1980-an.

Pemerintah Jerman, Perancis, Swiss, Spanyol dan negara-negara lain langsung melarang balap mobil, sampai lintasan balap mempunyai standar keamanan yang lebih tinggi (Swiss masih memiliki larangan segala bentuk motorsport waktunya, sampai 2010).

Langkah-langkah keselamatan yang biasa kita jumpai pada mobil saat ini, seperti sabuk pengaman, dilakukan setelah Tragedi 1955, dan melacak berubah untuk menjelaskan peningkatan kecepatan dari 60 mil per jam ketika pertama kali dibuka sampai 190 mil per jam, di tahun 1955.

1. Ayrton Senna




Sebuah jajak pendapat tahun 2009 dari 271 pembalap Formula One, anggota kru dan karyawan menunjuk Ayrton Senna sebagai pembalap F1 terbesar dalam sejarah.

Seorang Pembalap yang 3 kali menjuarai seri kejuaraan, Senna memenangkan Grand Prix Monaco enam kali dan memegang rekor pole position dari tahun 1989 hingga 2006. Senna itu dikenal sebagai pesaing yang tangguh, dan terutama dikenal karena perseteruan dengan Alain Prost, pesaingnya dalam berduel untuk kejuaraan di musim 1988-1992. Kejuaraan F1 1994, Senna mulai perlombaan; meskipun menang dalam dua balapan, ia gagal untuk menyelesaikan balapan lain dan 20 poin tertinggal.

Dia memimpin di GP San Marino di Imola, di mana banyak pembalap berada di tepi setelah kematian pembalap pendatang baru Roland Ratzenberger, ketika mobilnya meninggalkan lintasan dan menabrak dinding penahan pada kecepatan 220 km/ jam. Tempat / kerangka roda penyok kebelakang menembus helm, menyebabkan pecah tulang tengkoraknya.

Di mobilnya, pekerja keamanan menemukan bendera Austria yang masih digulung, yang akan dikibarkan Senna untuk menghormati kematian Ratzenberger.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Pengikut